Selasa, 30 April 2013

laporan pratikum protozoa 2013


                                                            
LAPORAN PRAKTIKUM II
ZOOLOGI INVERTEBRATA
(AKKC 222)

PORIFERA
Oleh :
Merlina Nansarunai
A1C212203
Kelompok 3 A

Dosen Pengasuh :
Drs. Dharmono , M.Si
Mahrudin, S.Pd, M.Pd
Maulana Khalid riefani, S.Si,M.Sc

Asisten :
Maya Rovina
Rahmawati, S.Pd


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
FEBUARI 2013
PRATIKUM II
Topik                  :   PORIFERA
Tujuan                : Untuk mengenal morfologi dan tanda-tanda karakteristik   anggota phylum porifera. 
Hari,  tanggal     :   Kamis / 28 Febuari 2013 
Tempat               :  Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin.

I. ALAT DAN BAHAN

Alat     : 1. Lup
              2. Baki
              3. Alat tulis

Bahan : Awetan kering spesies porifera        
1.      Microciona sp.
2.      Euspongia
3.      Hippospongia
                       
II. CARA KERJA
  1. Menyiapakan alat dan bahan.
  2. Menggambar morfologi hewan porifera.
  3. Memberikan keterangan selengkapnya dan menuliskan sistematikannya.

III. TEORI DASAR
            Porifera mewakili hewan-hewan primitif yang bersimetri redial atau asimetri dan menyimpang dari garis utama evolusi metozoa, serta merupakan cabang evolusi yang disebut parazoa. Hewan ini hidup di laut, beberapa di air tawar, tidak bertangka, memiliki banyak pori. Sistem pencernaan berlangsung secara intraseluler.
            Tubuh porifera masih diorganisasi pada tingkat seluler, artinya tersusun atas sel-sel yang cenderung bekerja secara mandiri, masih belum ada koordonasi antara satu sel dengan sel yang lainnya. Susunan tubuh porifera lebih kompleks daripada susunan tubuh protozoa. Porifera mempunyai ciri-ciri khusus antara lain tubuh memiliki banyak pori, yang merupakan awal dari system kanal (saluran air) yang menghubungkan daerah eksternal degan daerah internal; tubuh tidak dilengkapi dengan appendiks dan bagian yang dapat digerakkan; belum memiliki system saluran pencernaan makanan. Sistem makanannya berlangsung secara intraseluler. Tubuhnya memiliki penyokong tubuh yang tersusu atas bentuk kristal dari spikula-spikula atau bahan serabut yang terbuat dari bahan organic.
            Rangka hewan ini merupakan rangka luar karena tidak berupa zat penguat yang terdapat dalam tubuh. Rangka luar ini ada yang tersusun dari serabut-serabut lentur yang terdiri dari zat-zat yang disebut spongin, ada yang tersusun dari serabut spongin dengan semen dari kersik, zat kapur, duri-duri kersik dan duri zat kapur. Duri-duri ini disebut spikula. 
Porifera umumnya hidup di air laut, yaitu terbentang dari sejak daerah perairan pantai yang dangkal hinga daerah kedalaman 5,5 km. fase dewasa bersifat sesil, artinya menetap pada suatu tempat tanpa mengadakan perpindahan.
Hewan ini mengikatkan diri pada suatu objek yang keras yang dipakai sebagai tambatan, misalkan batu-batuan, kayu-kayuan yang tenggeam di dalam air dan ada juga yang melekat pada cangkok hewan-hewan Molusca. Sebagan besar membentuk koloni yang sering tampak tidak teratur, sehingga tampak seperti tumbuhan. Warna tubuhnya bermacam-macam. Struktur tubuhnya kecuali berpori dengan macam-macam bentuk yang dibagi atas tiga tipe, yaitu Ascon, Sycon atau Scypha dan Rhagon. Perkembang biakan hewan ini secara nonseksual (dengan membentuk kuncup) dan secara seksual (belum dilakukan dengan alat kelamin khusus). Phylum Porifera digolongkan menjadi 3 kelas, yaitu :
  1. Kelas Calcarea atau Calcispongiae
  2. Kelas Hexactinellida atau Hyalospongiae
3.      Kelas Demospongiae
Pada porifera belum terbentuk jaringan tubuh, sel tubuhnya masi bertindak sendiri-sendiri dalam melakukan fungsinya sebagai salah satu anggota bagian tubuh yang turut bertanggung jawab terhadap hidup matinya individu tubuh tersebut. Porifera tidak dapat digolongkan pada kelompok metazoa tetapi tergolong pada kelompok mesozoa. Dalam hal ini porifera juga belum mempunyai alat khusus yang digunakan untuk mengeluarkan zat-zat sampah yang merupakan sisa-sisa metabolisme. Dalam penelitian ternyata zat-zat sampah yang berupa butir-butir itu dikeluarkan dari daerah internal tubuhnya oleh sel-sel amoebocyt.




















                                               

V.   ANALISIS DATA
1.      Microciona sp.
Klasifikasi
Kingdom       : Animalia.
              Phylum          : Porifera.
              Classis            : Demospongiae.
              Ordo              : Poeciloclerina.
              Familia           : Microcionidae.
              Genus                        : Microciona.
              Spesies           : Microciona sp.
              ( Sumber : Jasin, Maskoeri. 1984 )
               Microciona sp. mempunyai bentuk tubuh silinder yang pendek, Tubuhnya terbuat dari bahan kristal zat kapur, memiliki pori yang berukuran sangat kecil kecil. Hidupnya secara berkoloni. Microciona termasuk koloni laut yang  banyak ditemukan  dilaut. Berbentuk seperti batu kerang dan mengeras dalam tempat yang dangkal atau bagian air laut yang dalam. Hewan ini memiliki tubuh lunak dan lembek, bercabang seperti ranting, didalam air berkembang dan  bertambah panjang hingga 15 cm,  tidak mempunyai rangka, walaupun ada yang mempunyai rangka, rangka itu hanya terdiri dari serabut-serabut spongin dengan spikula dari kersik,  serta memiliki sistem saluran yang rumit. Ciri-ciri yang dapat dikenali dari hewan ini adalah Mempunyai kerangka tubuh yang tersusun atas berbagai bentuk spikula dan kadang-kadang juga spongin. Dan bentuk bersemak-semak dengan cabang yang panjang. Hidupnya berkoloni di air yang dalam warnanya merah cerah. Spesies ini merupakan jenis spesies yang ketiga dari phylum Porifera termasuk koloni laut yang berbentuk seperti batu karang dan mengeras pada tempat yang dangkal atau bagian air laut yang dalam.
2.      Euspongia Mollisima
Klasifikasi 
  Kingdom       : Animalia.
  Phylum          : Porifera
Classis             : Demospongiae.
Ordo              : Keratosa
Familia           : Euspongidae
Genus                        : Euspongia.
Spesies           : Euspongia Mollisima.
( Sumber : Jasin Maskoeri. 1984 )
Tubuh Euspongia Mollisima terbuat dari spongin saja, atau campuran spongin dan zat kersik. Terlihat pada tubuhnya lubang pori yang tersusun beraturan dan berukuran sama. Euspongia biasanya digunakan untuk spon mandi. Hewan ini memiliki sponge yang besar dan bentuknya bulat, warnanya hitam gelap. Euspongia adalah tipe kompleks dimana disini akan lebih lanjut berkembang biak dalam lipatan dari dinding tubuh. Kerangka tersusun dari jeringan serat pori tanpa spikula. Cara pembuatan spon mandi dirumah melalui tahap pemutihan atau pencelupan dari spon, biasanya spon mandi sebagian besar terdiri dari serat sponge. Biasanya selain digunakan di kantor, juga untuk membasahi stempel kartu pos catatan perhitungan mata uang atau kertas dan lain-lain. Euspongia adalah bentuk tetap yang ditemukan menempel di dasar air hangat yang tenang. Euspongia  hidup di laut pada kedalaman tertentu, bertubuh lunak, tidak mempuyai rangka, walaupun ada hanya terdiri dari serabut-serabut spongin dengan dari kersik, kebanyakan ditemukan dilaut dan mempunyai pori-pori disetiap tubuhnya. Ciri-ciri Euspongia ini adalah mempunyai spongia yang lebih kasar, tidak berspekula kerangka tubuhnya khusus terbentuk dari bahan spongin.  Euspongia mollisima adalah jenis spesies dari phylum Porifera yang bertulang lunak dan tidak memiliki spikula. Kebanyakan spesies ini hidup di laut pada kedalaman tertentu yang masih dapat ditembus cahaya. Merupakan binatang sponsa yang dipakai untuk alat penggosok pada waktu mandi.
3.      Hippospongia sp.
Klasifikasi
Kingdom       : Animalia
Phylum          : Porifera
 Classis           : Demospongiae.
Ordo              : Keratosa
Familia           : Hipposngiadae
Genus                        : Hippospongiae
Spesies           : Hippospongiae sp.
              ( Sumber : Jasin, Maskoeri. 1984 )
                     Hippospongiae sp. mempunyai tubuh yang bulat tidak beraturan, mempunyai pori yang juga bentuknya tidak beraturan. Hippospongia dapat digunakan sebagai spons mandi. Kerangka tubuh khusus terbentuk dari bahan spongin, ditutupi oleh membran tipis yang gelap yang memiliki banyak ruang berflagel. Skeleton terdiri dari serabut spongin, jaringan tidak teratur tanpa spikula. Saluran air tipe leukon dimana air dari ostium masuk melalui saluran menuju ke rongga-rongga yang di batasi koanosit. Dari rongga ini air melalui berbagai saluran lagi menuju ke spongocol dan akhirnya keluar menuju oskolom. Hewan ini biasanya di temukan di atas dasar karang dengan kedalaman 10-15 m. Berbentuk seperti batu dengan banyak celah. Porifera ini hidup di dasar laut, tidak memiliki spikula dan bertubuh lunak. Kerangka tubuhnya dari sponging.



















VI.   KESIMPULAN
1.      Porifera merupakan  hewan bersel banyak yang paling sederhana atau primitif, kemampuan geraknya kecil (tidak aktif).
2.      Porifera digolongkan menjadi 3 kelas yaitu Calcarea, Hexactinellida, dan  Demospongiae.
3.      Porifera merupakan hewan yang mempunyai  banyak pori pada tubuhnya.
4.      Tubuh porifera ada yang terbuat dari bahan spongian, kristal zat kapur, dan kristal silikat.
5.      Habitat porifera ada di laut, dan sebagian ada di air tawar.
  1. Bentuk tubuh Coelenterata bervariasi, ada yang berbentuk seperti bunga, akar maupun bentuk ubur-ubur.
  2. Anggota phylum coelenterata meliputi hewan air yaitu polip, ubur-ubur, anemon laut, hewan karang dan lain-lain.
  3. Tubuh coelenterata radial simetris, berbentuk silindris, globural maupun spherikal. Coelenterata termasuk hewan yang sifatnya diplobastis, karena tubuh tersusun atas dua lapisan. Saluran pencernaan makanan tidak sempurna merupakan sistem gastrovaskular. Mereka juga belum memiliki alat pernapasan, peredaran dan pengeluaran hasil ekskresi yang khusus.
  4. Yang termasuk spesies pada Coelenterata ialah : Favia sp, Hartea sp, Fungia elegant, Meandrina sinosa ,Madrepora sp, Goniastraea pectinata, Ceratella sp., dan Acropora sp.










VII.   DAFTAR PUSTAKA
Anonim 2013 . B.1 ( Dokumentasi Pribadi )
          ( didokumentasi pada 28 Febuari 2013 )
Anonim 2013 . C.1 (http: image.google.com)
          ( diaskes pada 3 Maret 2013 )
Anonim 2012 . B.2 ( Dokumentasi Pribadi )
                   ( didokumentasi pada 28 Febuari 2013)
Anonim 2013 . C.2 (http: image.google.com)
          ( diaskes pada 3 Maret 2013 )
Anonim 2012 . B.3 ( Dokumentasi Pribadi )
          ( didokumentasi pada 28 Febuari 2013)
Anonim 2013 . C.3 (http: image.google.com)
          ( diaskes pada 3 Maret 2013 )
Dharmono, Mahrudin dan Riefani khalid Maulana. 2013. Penuntun Praktikum Zoologi Invertebrata. Banjarmasin: FKIP UNLAM Banjarmasin
Jasin, Maskoeri. 1987. Sistematik Hewan. Surabaya: Sinar Wijaya










Tidak ada komentar:

Posting Komentar